Course modified date: 6 Mei 2026
Pupuh adalah bentuk puisi tradisional Bali yang terikat aturan padalingsa (guru wilangan dan guru lagu) dan digunakan dalam kesastraan
Geguritan (Sekar Alit). Sepuluh jenis pupuh yang populer di Bali antara lain:
Sinom, Semarandana, Mijil, Maskumambang, Pucung, Pangkur, Ginada, Ginanti, Dangdang Gula, dan Durma. [
1,
2,
3]
Jenis-Jenis Pupuh Bali (Sekar Alit)
- Pupuh Sinom: Sering digunakan untuk nasihat atau cerita yang riang.
- Pupuh Semarandana: Sering menggambarkan percintaan atau kesedihan.
- Pupuh Mijil: Biasanya digunakan untuk nasihat yang lembut.
- Pupuh Maskumambang: Sering digunakan untuk mengungkapkan rasa sedih atau prihatin.
- Pupuh Pucung: Sering digunakan untuk tebak-tebakan atau cerita santai.
- Pupuh Pangkur: Biasanya digunakan untuk cerita perjuangan atau kemarahan.
- Pupuh Ginada: Sering digunakan untuk cerita yang menyedihkan atau nasihat.
- Pupuh Ginanti: Sering digunakan untuk mengungkapkan rasa cinta atau ajaran.
- Pupuh Durma: Sering digunakan untuk menggambarkan situasi perang atau marah. [, , 3, 4, 5]
Unsur-Unsur Pupuh
Pupuh terikat oleh aturan yang disebut padalingsa, yaitu:
- Guru Wilangan: Jumlah suku kata dalam setiap baris (carik).
- Guru Lagu: Suara vokal akhir pada setiap baris. [1, 2]
Contoh Geguritan (Karya Sastra Pupuh)
- Geguritan Sampik Ingtai.
- Geguritan Jayaprana.
- Geguritan Basur. [1]
Tembang-tembang ini masih populer digunakan dalam upacara adat atau sekaa pasantian. [
1]